Tidak semua yang aku tulis adalah yang aku rasakan

Selasa, 05 Juni 2018

Refleksi Perkuliahan Etnomatematika


Refleksi Perkuliahan Etnomatematika
Oleh:
Malidha Amelia/15301241016/S-1
Pendidikan Matematika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta

Pembelajaran kali ini tanggal 14 Mei 2018 didampingi oleh Prof Marsigit, dan juga beberapa mahasiswa S2 dan S3 yang sedang melakukan penelitian tentang etnomatematika seperti pemelajaran sebelumnya, hanya saja terdapat beberapa mahasiswa S3 yang baru masuk kelas. Pembelajaran kali ini memberikan contoh tentang simulasi pengelolaan kelas oleh Prof Marsigit yang belum ada di Indonesia sebagai bentuk inovasi pembelajaran. Bagaimana peran guru untuk memfasilitasi kemampuan siswa dengan teknologi, salah satunya adalah teknologi pngelolaan kelas, yang selanjutnya di support dengan teknologi RPP dan LKS. Contoh pengelolaan kelas yaitu dengan cara membuat berbagai macam kelompok, ada kelompok besar yang didampingi oleh Prof Marsigit, kelompok sedang dan kelompok kecil yang didampingi oleh supervisor mahasiswa S3 yang lain.
Pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa PMA diminta untuk membuat 5 pertanyaan yang ingin ditanyakan. Sehingga setelah kelas dibagi menjadi berkelompok-kelompok, mereka diminta untuk menyebutkan pertanyaan yang ingin ditanyakan, dan kemudian dilanjutkan berdiskusi mengenai jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan. Beberapa pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut:
Bagaimana sintaks yang digunakan untuk pembelajaran etnomatematika?
Prof Marsigit menjelasakan bahwa prosedur pelaksanaan pembelajaran berbasis etnomatematika yang digunakan harus sesuai dengan sintak yang dituliskan dalam RPP. Kemudian metode yang digunakan pun bermacam-macam, bisa sintifik, gabungan berbagai metode dll.
Apa perbedaan RPP berbasis Etno dengan yang tidak
Bahwa perbedaannya terdapat pada sintaksnya dan juga ada atau tidaknya contoh-contoh konkret.

Bagaimana cara guru untuk memahami karakter siswa yang bermacam-macam?
Dengan cara pengelolaan kelas, dimana salah satu kelas terdapat 3 macam kelompok. Dalam penerapannya nanti masing-masing kelompok diberikan LKS dan bahasan yang berbeda-beda. Sehingga dalam satu jam pelajaran dapat diperoleh berbagai macam konsep yang berbeda juga.
Bagaimana mengajarkan kreatifitas siswa?
Menurut Prof Marsigit menegaskan bahwa kreatifitas itu bukan diajarkan, namun dikembangkan dengan bantuan guru dan lingkungannya. Supaya siswa bisa kreatif, maka antara lain siswa harus mandiri, merdeka (tidak dalam keadaan tekanan), harus dalam kondisi yang senang dan memiliki motivasi. Merdeka lain dengan bebas, jika merdeka itu bertanggung jawab dan ada tata caranya,bukan berarti bebas. Siswa diberi kesempatan dan siswa diberikan kesempatan membangun pengalaman dan proses kegiatan menemukan konsep.
Apakah semua pembelajaran matematika dapat dikaitkan dengan etnomatematika?
Prof Marsigit menjelaskan bahwa semua ilmu pada hakikatnya ada 2, yaitu dari pikiran dan dari pengalaman. Jika diatambah ada 3 yaitu yang pertama dan utama yaitu dari spiritual. Oleh karena itu, semua ilmu itu pasti memiliki latar belakang pengalaman atau konteks. Dan salah satu konteks yang khusus adalah budaya. Sehingga banyak matapelajaran yang dapat digali dengan budayanya. Misalnya etnomatematika, etnolinguistik dll.
Bagaimana mengajarkan etno dalam matematika?
Prof Marsigut menjelaskan bahwa matematika itu semakin tinggi semakin vertikan dan semakin abstrak sehingga semakin kebawah semakin konkret. Di perguruan tinggi untuk mempelajari matematika, tidak ada kaitanya dengan etno. Begitupula untuk SMA yang sudah mulai ditinggalkan karena merupakan peralihan dari matematika kontret dengan  matematika fomal. Sehingga etnomatematika harus berkaitan dengan pemahaman benda konkret dan digunakan untuk siswa SD-SMP.
Bagaimana membangkitkan semangat siswa?
Prof menjelaskan bahwa untuk membangkitkan ssemangat, rasa senang, terhindar dari rasa takut semua itu harus diawali dengan kemampuan interaksi, komunikasi, tegur sapa, membuat pertanyaan dsb untuk menjawab motivasi dan semangat. Sehingga komunikasi merupakan hal yang penting dan yang dijabarkan dalam RPP dan LKS yang lebih luas lagi adalah komunikasi pedagogik.
Setelah itu, Prof juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman sekelompoknya. Untuk beberapa pertanyaan yang lain dapat diperoleh jawabannya dengan melakukan penelitian yang terkait dengan pertanyaan tersebut. Kesimpulannya adalah tidak ada pembelajaran yang terbaik, yang ada adalah kita berusaha dan berdasarkan teorinya. Sehingga bukan terkait menarik atau tidaknya jika itu menyangkut prosedur atau sintaksnya. Jadi sintaksnya atau prosedurnya bermakna atau tidak, bekerja atau tidak dan baik atau buruknya hanya sebagai akibat.
 Kemudian sebelum pembelajaran berakhir, Prof Marsigit mengembalikan kondisi siswa seperti semula (klasikal) dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa S3 untuk menyampaikan hasil diskusi berdasarkan kelompok masing-masing yang diperoleh sebagai berikut:
Bagaimana mengaitkan antara budaya dengan matematika?
Oleh Muhammad Fauzi mahasiswa S2 yaitu bahwasanya salah satu hal yang menjembatani keduanya adalah etnomatematika. Contoh yang bisa dimanfaatkan didalamnya adalah bentuk-bentuk artefak, ada 2 macam artefak yaitu artefak yang dapat bergerak dan artefak yang tidak bergerak. Salah satunya artefak yang dapat bergerak adalah artefak yang dapat kita pindahkan. Kemudian kaitannya dengan etnomatematika merupakan matematika realistik itu sendiri.
Mana yang lebih besar matematika realistik atau etnomatematika?
Oleh Muhammad Fauzi mahasiswa S2 yaitu bahwa etnomatematika itu berada pada matematika realistik. Kemudian salah satu yang dapat dikaji dalam etnomatematika adalah etnomatematika yang ada di candi borobudur. Misalnya bentuk dari susunan batu, tangga, ujung dari candi, dll. Kemudian dikaitkan dengan adanya ketoprak kemarin di UNY, dengan judul Rembulan Kekalang, matematika yang dapat dipelajari disana misalnya bentuk dari topi Prof.Marsigit apabila kita perpanjang dapat berupa kerucut. Selain itu dalam pakaiannya dengan bentuk corak yang beragam, kemudian etnomatematikanya dapat dipelajari tentang pola kesebangunan. Contoh tersebut merupakan yang menjembatani antara matematika dengan budaya.
Bagaimana tekniknya saintifik? Apakah dapat diterapkan ke semua materi?
Oleh Muhammad Fauzi mahasiswa S2 yaitu dalam memilih metode, pendekatan dan model matematika tidak semua dapat digunakan dalam mempelajari materi matematika. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana letak karakteristik dari materi yang akan diajarkan dan bagaimana karakteristik siswa apakah cocok atau tidak. Nah untuk memasukkan budaya kedalam RPP dan LKS adalah kita perlu mengkaji, budaya mana yang ingin kita kaitkan. Dimana saat ini budaya sudah mulai terkikis, sehingga perlu mengetahui apa peran budaya tersebut dalam pendidikan agar kita dapat membangun budaya sehingga siswa akan lebih termotivasi belajar matematika yang dikaitkan dengan  budaya tersebut.
Bagaimana mengaitkan belajar budaya dengan matematika?
Oleh Wawan mahasiswa S2 mengatakan bahwa banyak sekali jurnal-jurnal yang meninjau masalah tersebut. Hanya saja yang menjadi masalah adalah apakah kajian budaya tersebut dapat dikaitkan dengan pembelajaran matematika. Manfaat etno dalam matematika adalah sebagai sumber inspirasi, sumber belajar dengan tujuan yang lebih tinggi untuk mencapai pendidikan matematika formal. Diawali pada belajar kontekstual budaya dan kemudian tujuan akhirnya adalah pendidikan matematika formal. Jika dimasukkan kedalam RPP, misalnya mengamati kontekstualnya. Namun dari berbagai jurnal masih jarang yang mengjadi bagaimana mengaitkan budaya dengan matematika karena yang banyak dikaji adalah kaitan antara budaya dengan matematika.
Kebanyakan budaya yang dapat dimasukkan dalam matematika adalah geometri, apakah tidak ada materi lain yang cocok?
Oleh Wawan mahasiswa S2 mengatakan bahwa dalam menuangkan konteks budaya kedalam matematika diperlukan adanya kreatifitas guru, misalnya motif dalam kain batik, tidak hanya bentuk geometri yang dapat dikaji, namun dapat juga dikaitkan untuk mempelajari materi perbandingan senilai dll.
Jenjang manakah yang paling cocok untuk diterapkan pelajaran dengan etnomatematika?
Oleh Wawan mahasiswa S2 mengatakan bahwa jenjang diawal yang lebih membutuhkan etnomatematika, karena akan membangkitkan motivasi, membangkitkan minat dan juga membangkitkan kreatifitas. Sementara pada jenjang atas, siswa akan cenderung bisa memahami matematika formal, tidak terlalu banyak masalah dan tidak harus dikaitkan dengan kontekstualnya. Tetapi masalah anak masih diperlukan untuk sampai ke matematika formal.
Bagaimana cara mempelajari matematika yang instan dengan yang tidak? Bagaimana keunggulan dan kelemahannya? Bagaimana memasukkan nilai-nilai moral dalam pembelajaran matematika? Proses saintifik apakah 5m harus terlihat atau tidak? Terkait apresepsi?
Oleh Ibu Lukluk Mauluah mahasiswa S3 mengatakan bahwa terkait memasukkan nilai moral dalam pendidikan sudah pernah dibahas dalam penelitiannya S2 yaitu pemasukan nilai-nilai islam dalam pembelajaran matematika. Tentang intuisi, diberikan contoh tentang langkah-langkah penjumlahan yang dapat dipahami secara alami tidak dengan pemaksaan seperti yang dituliskan oleh Prof Marsigit dalam blognya.
Materi yang dapat dikaitkan dengan etnomatematika? Bagaimana cara memberikan kesempatan untuk menembangkan kreatifitas siswa?
Oleh Tubagus Pamungkas mahasiswa S3 mengatakan bahwa materi yang dapat dikaitkan dengan etnomatematika adalah bangun dan ruang geometri, perbandingan senilai, barisan dan deret dll.
Menampung dari berbagai pertanyaan Prof Marsigit menjelaskan kembali mengenai intuisi, intuisi itu kemampuan yang sudah tidak perlu untuk dipikirkan kembali dan bersifat spontan. Jadi jika masih memikirkan mana arah utara dengan berpikir dan bingung maka terdapat permasalahan dalam intuisinya. Intuisi itu bisa sehat, sakit dan juga bermasalah, sehingga jika ingin hidup dengan bahagia perlu untuk memiliki intuisi yang sehat. Manusia memiliki banyak sekali intuisi, karena semua ini merupakan intuisi, ada intuisi benda, intuisi waktu, intuisi cahaya, intuisi lapar, termasuk intuisi penjumlahan, matematika, keuangan, jarak dll.
Selanjutnya bagaimana memperoleh intuisi?
Prof Marsigit mengatakan bahwa cara memperoleh intuisi adalah dari pengalaman. Karena intuisi adalah pengalaman. Tidak ada intuisi jika belum ada pengalaman. Setiap manusia harus memiliki intuisi, karena jika tidak maka hidunya tidak akan seimbang. Contohnya, jika manusia tidak memiliki intusisi kenyang, maka ia akan makan denga terus menerus.

Sabtu, 02 Juni 2018

Refleksi Pembuatan Perangkat Pembelajaran Berbasis Etnomatematika dengan Pendekatan Saintifik melalui Objek Candi Prambanan Dibimbing oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Refleksi Pembuatan Perangkat Pembelajaran Berbasis Etnomatematika dengan Pendekatan Saintifik melalui Objek Candi Prambanan
Dibimbing oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Oleh:
Malidha Amelia/15301241016/S-1
Pendidikan Matematika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta

Etnomatematika merupakan mata kuliah wajib bagi kami mahasiswa Pendidikan Matematika A angkatan 2015 Universitas Negeri Yogyakarta. Saya mengikuti perkuliahan Etnomatematika pada semester ke 6 yang dimapu oleh Prof Marsigit. Etnomatematika adalah perpaduan antara Matematika, pendidikan dan budaya. Sedangkan menurut D’Abrosio bahwa Etnomatematika merupakan Matematika yang dipraktikkan oleh kelompok budaya seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu, masyarakat lainnya. Etnomatematika menggunakan konsep Matematika secara luas yang terkait dengan berbagai aktivitas matematika, meliputi aktivitas mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain, menentukan lokasi dan lain sebagainya.
Pada perkuliahan Etnomatematika kali ini, kami diberi beberapa tugas diantaranya adalah membuat komentar pada blog yang ditulis oleh Prof Marsigit, yang dapat diakses din halaman powermathematics.blogspot.com dimana didalam blog tersebut banyak sekali artikel, cerita/refleksi perkuliahan, link pendidikan dll yang sangat bermanfaat untuk dibaca. Selain itu kami juga mendapat tugas untuk melakukan observasi pada beberapa tempat berbudaya untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika, mempraktikkan pembelajaran melalui perangkat pembelajaran yang telah dibuat tersebut, menonton wayang, menonton pagelaran ketoprak dalam rangka Dies Natalis UNY yang salah satu lakonnya dimainkan langsung oleh Prof Marsigit, selanjutnya adalah pembuatan refleksi budaya dan refleksi perkuliahan.
Kali ini saya akan membahas sedikit mengenai refleksi perkuliahan dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang berbasis etnomatematika. Sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Prof Marsigit bahwa pembelajaran Etnomatematika kami diminta untuk melakukan observasi ke berbagai tempat berbudaya. Hasil dari observasi yang dilakukan tersebut berupa perangkat pembelajaran yang tentunya berbasis Etnomatematika. Dalam satu kelas dibagi kedalam 3 kelompok untuk melakukan observasi di 3 lokasi yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Kraton Yogyakarta.
Kebetulan kelompok saya mendapat lokasi Candi Prambanan untuk melakukan observasi. Sebelum melakukan observasi, terlebih dahulu kami membagi materi dan kelas dari pelajaran Matematika untuk selanjutnya dibuat perangkat pembelajaran agar tidak terdapat kesamaan materi antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya. Untuk kelompok Candi Prambanan mendapat bagian kelas IX, sedangkan materi yang saya kaji adalah pembelajaran geometri untuk mencari luas permukaan tabung. Kami berangkat melakukan observasi pada tanggal 24 Maret 2018 bersama 10 orang lainnya.
Di Candi Prambanan kami melakukan observasi budaya yang ada disana dengan pembelajaran Matematika. Banyak sekali objek yang dapat dikaitkan dengan matematika yaitu diantaranya adalah berbagai bentuk relief, stupa, tangga berundak, letak candi yang satu dengan yang lain, artefak dll. Sehingga karena saya mengambil materi geometri untuk mencari luas permukaan tabung maka saya memfokuskan observasi kepada bentuk-bentuk dari candi dan sekitarnya yang berbentuk menyerupai tabung. Untuk mengenalkan bentuk tabung dan mencari luas permukaannya. Dari hasil observasi, bentuk yang menyerupai tabung pada Candi Prambanan dan sekitarnya yaitu terdapat pada ujung dari masing-masing stupa, dan juga beberapa objek-objek yang lain yang terdapat pada musium Candi Prambanan.
Berikut merupakan bentuk-bentuk di Candi Prambanan dan sekitarnya yang menyerupai tabung.

 
 

Dari hasil pengamatan seperti diatas, dapat dikembangkan menjadi sebuah Lembar Kegiatan Peserta Didik yang berbasis Etnomatematika. Dimana menggunakan pendekatan saintifik yaitu dengan sintaks 5m maka pengaitan pembelajaran matematika dengan budaya Candi Prambanan seperti hasil observasi diatas dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran meenentukan luas permukaan tabung, yaitu pada KD Mengonstruksi rumus luas permukaan dan volume bangun ruang  sisi lengkung (tabung, kerucut dan bola).
Sehingga setelah mengikuti perkuliahan dengan Prof Marsigit pembelajaran matematika dengan basis budaya dapat menjadi inovasi baru bagi guru untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam memahami dan menemukan materi yang dipelajari. Karena dengan mengaitkan matematika dengan budaya sama saja mengaitkan matematika dengan kontekstual sehingga siswa dapat memahami bahwa matematika dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan juga ditemukan dalam budaya yang tersebar di Indonesia.

Berikut merupakan link untuk RPP dan LKPD berbasis Etnomatematika:

 


Sabtu, 19 Mei 2018

Ketoprak Rembulan Kekalang dalam Prespektif Pendidikan, Hiburan dan Komunikasi


Ketoprak Rembulan Kekalang dalam Prespektif Pendidikan, Hiburan dan Komunikasi
Oleh:
Malidha Amelia
Pendidikan Matematika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta

Seni budaya merupakan suatu mahakarya yang luar biasa yang seharusnya dilestarikan. Kebudayaan yang ada di Indonesia itu sangat banyak dan beragam, hal tersebut mencerminkan betapa kaya nya negara Indonesia. Salah satu budaya Indonesia adalah ketoprak. Seni budaya ketoprak adalah salah satu kesenian yang berasal dari Pulau Jawa. Ketoprak adalah suatu bentuk teater yang didalamnya terdapat unsur utama, yaitu dialog, tembang Jawa, tarian Jawa, dan dagelan yang diiringi dengan alat musik tradisional Jawa yaitu Gamelan. Seni budaya ketoprak merupakan seni panggung yang khas dengan alur cerita berupa kisah-kisah Jawa, tentang legenda, kepahlawanan dan juga kehidupan sehari-hari. Ketoprak merupakan kesenian yang lahir dari masyarakat sehingga memiliki sifat spontan dan juga terdapat improvisasi dalam penyajiannya. Seni ketoprak mengandung unsur pendidikan, komunikasi dan juga hiburan. Walaupun seni ketoprak berasal dari Jawa, seni ketoprak sudah berkembang luas dan bisa dinikmati oleh semua masyarakat.
Namun seiring dengan perkembangan jaman beberapa budaya asli Indonesia mulai luntur terkikis oleh budaya luar. Dewasa ini seni budaya Jawa sudah terdengar asing bagi generasi bangsa yang baru, terutama seni ketoprak. Mereka lebih berminat untuk menonton film daripada menonton pertunjukkan ketoprak. Terkait dengan hal tersebut untuk menghidupkan lagi kesenian ketoprak di lingkungan perguruan tinggi, Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan pertunjukkan ketoprak dalam rangka memperingati Dies Natalis UNY ke-54. Pertunjukkan ketoprak ini dilaksanakan pada 9 Mei 2018 pukul 20.00-23.00 WIB dan berlokasi di Auditorium UNY. Tidak hanya mengadakan pertunjukkan ketoprak yang biasa, ada hal spesial yang terjadi dalam pertunjukkan ketoprak ini, yaitu para pemainnya merupakan rektor, dosen sekaligus mahasiswa. Pertunjukkan ketoprak kali ini juga memanfaatkan teknologi modern yang menyediakan siaran live di akun youtube uny official.
Pertunjukkan ketoprak yang berjudul “Rembulan Kekalang” menceritakan tentang perebutan kekuasaan oleh Tumenggung Pasingsingan dengan Pangeran Hadi Mataram. Pangeran Hadi Mataram merupakan raja Mataram yang baru saja dinobatkan oleh Pangeran Sepuh Purbaya. Tumenggung Pasingsingan sampai merelakan anaknya yaitu Rara Mangli untuk dinikahkan dengan Pangeran Timur dengan tujuan agar menantunya tersebut Pangeran Timur menjadi penguasa Mataram untuk menggantikan Pangeran Hadi Mataram. Akan tetapi, usaha buruknya sia-sia, karena ketamakan Tumenggung Pasingsingan mengakibatkan Rara Mangli kehilangan segala cinta, ayah dan juga tahta.
Seperti yang diakatakn diatas, bahwa pertunjukkan ketoprak memiliki unsur pendidikan, komunikasi, dan hiburan. Pertunjukkan ketoprak “Rembulan Kekalang” tersebut memiliki banyak unsur yang bermanfaat dalam pendidikan, seperti halnya mengajarkan tentang pendidikan moral. Dalam cerita tersebut diangkat pesan bahwa terdapat perebutan kekuasaan oleh Tumenggung Pasingsingan dengan Pangeran Hadi Mataram yang tidak berujung kemenangan, karena pada dasarnya kodrat seseorang sudah diatur oleh Yang Maha Esa. Pangkat, jabatan dan kekuasaan itu sudah ditetapkan dan diberikan kepada orang yang mampu untuk mengembannya. Sehingga sekuat apapun seseorang untuk merebut hak milik orang lain namun bukan kodratnya, maka semua itu pasti akan sia-sia dan tidak akan membuahkan hasil.
Selain itu, pendidikan moral yang dapat dipetik juga dari kisah Rara Mangli yang selalu menuruti perintah orang tua. Memang orang tua haruslah menjadi yang utama, sehingga kita perlu untuk menuruti dan menghormati perintah orang tua, asalkan hal tersbut adalah hal kebaikan. Namun sikap Rara Mangli yang ingin mengakhiri hidupnya karena merasa putus asa kehilangan cintanya, ayah dan tahta, merupakan sikap yang kurang baik untuk dicontoh. Sebaiknya seberat apapun masalah, kita harus mampu untuk bangkit dan memulai segalanya dari awal dan memperbaiki untuk menjadi lebih baik.
Dari semua properti dan aksesoris yang digunakan dalam pertunjukkan ketoprak juga mengandung seni. Busana dari para pemain merupakan kain batik dan pakaian adat Jawa, sehingga ikut serta dalam melestarikan budaya Jawa yang lain. Terlihat ada beberapa budaya yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran Matematika yang dikenal dengan Etnomatematika. Salah satunya adalah motif yang terdapat pada kain batik Jawa. Motif yang pada kain tersebut dan juga corak bordir ada baju bisa dikaitkan dengan pelajaran Matematika siswa yang memerlukan contoh konkret seperti mengenalkan berbagai bentuk geometri dan juga kesebangunan. Memperkenalkan bentuk segitiga, persegi, lingkaran, garis lurus, garis lengkung, garis sejajar, bangun yang sebangun hingga simetri dapat diberikan dengan contoh konkret dari kehidupan sehari-hari, salah satunya dari motif batik yang beragam.
Dari sisi hiburan, pertunjukkan ketoprak “Rembulan Kekalang” juga tidak kalah menarik. Dengan adanya komunikasi yang baik antar pemain dan juga peman dengan penonton (dagelan) membuat pertunjukkan ketoprak ini semakin hidup. Hal tersebut membuat pertunjukkan tidak terasa monoton dan membuat pemirsanya tidak merasa bosan. Ditambah lagi dengan adanya tarian Golek Ayun-Ayun dan diiringi dengan gamelan yang ditampilkan secara indah dan lues membuat penampilan ketoprak menjadi lebih lengkap.
Dengan adanya pertunjukkan ketoprak “Rembulan Kekalang” diharapkan semua penonton yang hadir dapat memetik berbagai pelajaran yang baik dan juga dapat dijadikan suatu sarana untuk mengembangkan dan melestarikan lagi budaya yang hampir luntur. Selain itu, diharapkan pertunjukkan ini mampu membangun kreatifitas bagi pendidik dalam mengajarkan berbagai konsep yang dikaitkan dengan budaya. Karena pada dasarnya pendidikan itu tidak lepas dari kebudayaan, pun sebaliknya.

Jumat, 17 Juli 2015

Senyum Sambut Lebaran

"kamu dimana dek?"
"lagi enggak dirumah mas, gimana?"
"aku mau main kerumah"
"nanti malam aja, aku kabari kalo udah dirumah"
"oke"

Percakapan singkat via bbm sore itu. Aku masih ingat gema takbir berkumandang, lebaran datang. Semua orang berbondong-bondong saling mengunjungi kerabat. Entah luar kota, luar pulau bahkan luar negeri melakukan tradisi mudik. Yaa hari raya Idul Fitri adalah hari yang ditunggu oleh semua umat islam. Tak terkecuali kamu, iya mudik dari tempat kamu kuliah pulang ke kota dimana kita bisa bertemu dan berkenalan satu sama lain, Wonosobo! Kamu tau? Aku sangat merindukan pesanmu "aku udah balik ke Wonosobo dek"
Iya lah, kita berpisah setelah kamu mulai kuliah, oke tidak masalah bagiku. Yang ada dipikiranku sekarang aku hanya ingin cepat pulang agar bisa bertemu denganmu.

Waktu menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit, aku mengirimkan pesan untukmu
"aku udah dirumah mas, jadi mampir?"
Lima menit, sepuluh menit, limabelas menit tak satupun pesanmu kuterima. Well, mungkin kamu gak jadi datang kerumah, itu yang dipikiranku. Yang jelas ini membuat aku merasa kecewa telah melewatkan waktu untuk sekadar menatap senyummu.

Ting tong.... *bel rumah berbunyi*

Ku buka pintu, ternyata kamu. Sekumpulan rinduku seketika runtuh dengan sapaanmu, seketika lebur dengan senyumanmu. Sungguh seperti magic, aku terhipnotis olehmu. Aku bahagia bisa menatapmu sedekat ini. Aku bahagia bisa bertemu denganmu kali ini. Lebaran pertama kita yaa "kita". Kita berbagi cerita, bertukar rindu dari jarak yang memisahkan kita. Percakapan antara aku, kamu dan kedua orangtuaku sangat hangat. Aku bahkan tak ingin melewatkan setiap detiknya. Dan pada saat tiba adzan maghrib, kamu sempat menjadi imam sholat maghribku, berdoa bersama. Berdoa untuk kebahagiaan kita bersama.




Upss, maaf aku tak sengaja menceritakannya lagi. Tiba-tiba ini terbesit dalam pikiranku. Maaf lembaran cerita masalaluku terbuka kembali. Bukan apa-apa, kamu tak perlu khawatir, ini adalah sepetik cerita indah kita dahulu, bukan yang lain. Singkat cerita sungguh aku bahagia mengingat lebaranku tahun lalu. Ya aku berharap kamu juga mengingatnya. Untuk lebaran kali ini, mungkin kita sudab jadi pribadi berbeda dari tahun lalu. Yang pasti aku minta maaf lahir batin ya, semoga aku dan kamu bisa bertemu lagi dilain waktu. Terimakasih telah mengikir cerita indah dilebaran kita, dahulu :)

Selasa, 07 Juli 2015

Boleh Aku Bercerita?

Semalam hujan turun menyelimuti gundah hati
Lalu cahaya fajar menyentuh sepi
Dan saat pelangi mulai menghias dirinya
Berjuta warna terajut menjadikannya sempurna

Hingga detik ini aku menunggu
Sosok ciptaan-Nya yang membuatku merindu
Hingga kini aku masih bertanya pada diri
Apakah semua ini nyata bukan sekadar mimpi?

Kau tau?
Aku menyayanginya
Aku mengagumi sosoknya
Dia, membuatku tak bisa menikmati mimpi
Tenggelam dalam sebuah imajinasi

Bisa kau ulurkan tanganmu?
Biar kuajak kau menghabiskan waktu
Ingin kau mendengar ceritaku

Aku berada dalam suatu tempat dimana aku mulai menikmatinya
Boleh kau katakan aku terjebak dalam lubang yang teramat dalam
Aku belum mengerti tentang hal itu
Aku hanya mengaguminya, lalu takut kehilangannya
dan kadang pula terselip rasa rindu yang begitu besar untuknya

Sudah kutelusuri buku yang menuliskan semua perasaanku
Tertulis jelas lengkap semua penjelasannya
Bahwa aku sedang jatuh cinta
Suatu perasaan yang mampu membuatku menggigil dengan sebuah ungkapan rindu

Kau tahu? Sebuah perahu berlayar mencari tempat berlabuh
Walau badai sempat menjadi teman sejati untuk ditempuh
Aku pun berjalan, walau penuh liku-liku
Walau begitu banyak duri yang menggores luka, mengucurkan darah segar yang sulit membeku
Aku tak menyerah, mencari sebuah tujuan tuk secoret kebahagiaan dalam lembaran putih kainku
Perlu aku jelaskan kembali, untuk siapa sebenarnya?
Perlu aku ketuk pintumu agar kau percaya?

Bahwa,
Aku menyayangimu
Ku jadikan kau tujuanku, tempat ku tepikan perahu cintaku
Ku katakan ini hanya padamu
Ku ingin kau mendampingi hidupku
Aku dan kamu jadi satu
Mengukir bahagia bersama waktu yang kian melaju

                                                              -your secret admire-