Tidak semua yang aku tulis adalah yang aku rasakan

Jumat, 07 Februari 2014

Ku Kehilangan Manismu

kepergian sosokmu
jadi pengharu semu
dan hilangnya jingga pada pelangi
seperti merelakanmu tuk menjauh
lalu segenap keindahan padamu
hanya jadi serpihan memori dimasa lalu

manismu masih tersisa
walau hanya setets embun dikala pagi
kala mentari menepakkan senyumnya

pahitmu jadi kian terasa
saat seteguk kehangatan kian membeku
tersisa ampas yang menjamu
tlah pergi dia nan ku cinta

apa yang sebenarnya terjadi
lelahkah engkau?

kini
dengan siapa ku mengadu?
anginpun tak berteman denganku
hanya lewat tanpa menyapa

kini
dengan siapa ku mengadu?
pepohonanpun tetap membisu
hanya kokoh pada pijakannya

tak bisakah kita seperti mereka?
kita masih dibawah langit yang sama
kita masih menatap bulan yang sama

tapi entah,
mungkin bintang tak mampu sampaikan
sejuta rinduku
yang tak terbayar
sejuta tanyaku
yang tinggal buyar
sejuta cintaku
yang kau tinggal

Jumat, 31 Januari 2014

Aku Bicara Tentang Apa?

luka yang kau torehkan
ingkatkan memoriku
betapa sakitnya kau abaikan

hingga kini
ku tak mengerti


aku yang memilihnya
mencintai sosok yang semu

ini salahku
begitu dalam mengartikan hadirmu
satu hari sebelum merasakan rindu
saat masih bersatu

aku bicara soal cinta
kadang menjadi madu terasa manis
kadang menjadi duri yang menyakitkan
tatkala tertancap dan membuatnya merekah
merah seutuhnya

aku bicara soal suka
penawar cinta itu apa?
penawar rindu itu apa?

hingga kini
ku tak mengerti

Izinkanku Bertahan Untukmu

kau tau?
setiap hari kumenunggu
tak setiap detik kulewatkan, tanpa hadirmu
diammu kini
renggut semua bahagiaku

aku tak pernah mengerti
sedalam apa yang kurasakan
tak tau harus kunamai apa semua ini
saat aku hanya diam dalam dingin malam
tanpa dekapan hangat
sosokmu


dahulu
kau pernah disini
habiskan malam dengan senyuman
kau ajarkanku petik bintang
lalu ku biarkan dipangkuan
agar mudah ku terka
apa yang ada dihatinya

namun semuanya kini tak sejalan
rinduku tak lagi kau toleh
semuanya kau remehkan
jarak yang ada
seolah menertawakanku
lalu dengan kejamnya
runtuhkanku
aku begitu rapuh

tadinya tak begini
ketika kau selalu tenangkan kegelisahan
tadinya tak begini
ketika kau coba bangunkan kepercayaan
padaku

sekarang,
izinkan aku bertahan
walau awan gelap itu renggut bintangku
dan ajarkan aku bertahan saat semua kini terasa
semakin semu

Jumat, 03 Januari 2014

Sebentar Lagi Kita Akan Berbeda



                “ hey ”
                “ bisa kan, tanpa harus mengagetkan? “
                “ mukamu lucu sekali haha “
                “ terserah “
Dia lalu duduk disampingku. Setiap pulang sekolah dia selalu memintaku untuk menunggunya, hanya untuk mendengar semua ceritanya yang sedang jatuh cinta. Orang-orang disekitar kita mengira kedekatanku dengannya adalah lebih dari seorang teman. Namun nyatanya, mereka semua salah. Ya, dia memang sedang jatuh cinta, tapi bukan padaku.
Sekian lama aku mengenalnya, semua tingkah lucu sampai yang sangat menyebalkan sudah kuhafal diluar kepala. Aku mulai mengagumi senyumannya, namun tidak untuk hari ini dan seterusnya. Bagaimana bisa aku mengagumi seseorang yang takkan penah jadi milikku? Memang hampir setiap hari aku bersamanya, namun tidak untuk berbagi kebahagiaan atau untuk menghabiskan waktu dan berangan bahwa dunia milik berdua, tidak! Dia dekat denganku hanya dengan alasan, mencari infromasi tentang seseorang yang dia cintai. Sahabatku.
“ hehe maaf, maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Lagian kenapa dari tadi kamu hanya melamun, biasanya mukamu sudah memerah marah padaku karena menunggu lama? “
Pernyataannya tak sempat aku jawab. Aku masih hanyut dalam pikiranku. Aku tak pernah mengira, bahwa aku menyimpan rasa cemburuku padamu. Ya mungkin selamanya kau hanya menganggapku sabahat yang kamu dekati saat kamu butuh. Berbeda denganku, aku selalu punya mimpi, kita akan menjadi lebih dari seorang sahabat. Aku menyukai orang yang berada tepat disampingku, aku mengagumi senyumanya, aku mengagumi tingkah lakunya, aku mengagumi semua tentangnya. Namun semuanya kini tak berlaku padaku lagi. Aku harus membuang semua rasa kagumku itu, demi kebahagiaanmu juga sahabatku.
“ kenapa tdi tidak membalas pesanku? “
“ aku sibuk “
Kebohonganku yang kesekian kalinya menjawab pertanyaanmu. Ya aku sibuk, aku sibuk melupakanmu, karena kamu tak lagi membutuhkanku, karena kamu telah menjadi cinta pertamanya.  
“ kamu belum mendengarkan ceritaku semalam, kamu belum tau betapa hebatnya orang yang sedang bicara denganmu saat ini “ dia memulai pembicaraan dengan semangat yang menggebu.
Semua yang kamu lakukan itu selalu hebat! Sampai aku bisa mengagumi sosokmu. Itu jawabanku yang tek sempat aku layangkan.
“ sehebat apa kamu? Kamu tak pernah terasa hebat dimataku. “ kebohonganku lagi.
“ tapi aku selalu hebat dimatanya. Semalam aku menjadi seorang yang sangat beruntung didunia ini. Aku berhasil menaklukan wanita pujaanku. Haha betapa hebatnya aku? “
“ oh ya? Coba ceritakan padaku.”
Untuk kesekian kalinya aku mencoba tegar dihadapannya. Untuk kesekian kalinya juga aku hanya diam saat hatiku mulai teriris. Mungkin siapapun juga tak ada yang mau menjadi diriku. Tidak, semua tindakanku sudah benar. Aku bahagia melihat orang yang aku sayangi juga bahagia, walau harus dengan sahabatku.
Dia masih terus bercerita, tentangnya dan Alleta sahabatku. Dia mengatakan betapa bahagianya dia telah menjadi kekasih Alleta. Aku sudah tau itu, karena saat dia menyatakan perasaannya, Alleta sedang bersamaku. Kebahagiaanmu terpancar nyata dari raut wajahmu, tapi aku berhasil menyembunyikan kesedihanku ini.
“ kamu terlihat lesu. Kenapa? Apa kamu sakit? “
Perhatiannya masih jelas terlihat didepan mataku. Sudah cukup, aku akan semakin tersakiti oleh semua perhatianmu kali ini. Kamu seperti menaburkan garam pada luka sayatanku. Sebentar lagi semua tentang kita akan berbeda. Aku dan kamu takkan lagi bercanda seperti dulu. Aku sudah bersiap dengan semua sikap cuekmu, aku menyadari bahwa perhatianmu hanya untuk Alleta. Aku mulai belajar untuk terbiasa tanpamu. Karena aku tau waktumu akan selalu dihabiskan untuk bersama kekasihmu, bukan lagi aku. Aku belajar melupakan rasa kagum untukmu ini, dan mungkin ini pertemuan terakhir kita berdua, candaan terakhir yang kamu lemparkan untukku. Semua rasa perhatianmu akan kamu tumpahkan tanpa sisa untuk sahabatku, bukan lagi untukku.
“ sudah makan siang? “ tanyanya mengawali pembicaraan denganku.
“ aku mau makan dirumah saja “
“ hari ini kamu pulang sore kan? Ayolah makan bersamaku saja, aku yang bayar kok “
“ setelah ini, aku langsung pulang”
Baru satu malam kamu jadian dengan kekasih barumu, kamu sudah mulai lupa akan jadwal kegiatanku kan? Mungkin untuk satu bulan annivmu dengannya, kamu akan melupakan aku, sama sekali tidak ingat. Aku menyadari, aku sudah tidak berarti dimatanya. Akupun tidak akan lagi mengharap semua yang pernah menjadi bunga dalam tidurku juga menjadi bahan candaan kita dulu.
Aku ingin sekali menumpahkan air mataku, aku ingin sekali berteriak bahwa aku membencimu mulai saat ini. Aku sakit, aku terjatuh dalam lubang yang sangat dalam, aku sudah salah mengamambil langkah untuk mengagumimu.
“ oh ya? Maaf aku lupa “
“ tentu, karena hanya Alleta kan yang ada dipikiranmu mulai sekarang, dan seterusnya? “
“ tidak, aku masih tetap memikirkanmu, aku takut kamu sakit gara-gara telat makan, ayolah ikut makan denganku. “
“ terimakasih, tapi aku mau pulang saja “
“ biasanya, kamu selalu semangat dengan kata makanan? Apa kamu sakit? “
Dia menyentuh kening dan leherku dengan tangannya.
“ tidak, aku hanya ingin pulang “
“ apa kamu tidak mau menemaniku sebentar saja? “
Aku ingin pulang, aku sudah bosan  untuk mempertahankan air mata agar tidak jatuh didepanmu. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Aku menggigil, mendengar pernyataanmu itu. Bagaimana aku tidak mau untuk menemanimu sebentar, selamanya aku mau sebelum kamu bersama Alleta seperti sekarang.
“ kenapa tidak meminta Alleta? “
“ hari ini, aku mau denganmu. “
“ sudah, aku sudah dengamu. Aku sudah mendengar cerita bahagiamu kan? Tugasku sudah selesai. Aku mau pulang. “
“ tapi aku belum mendengar ceritamu sayang “
Untuk apa kata sayang itu? Aku sangat benci mendengarnya. Lalu untuk apa pula aku bercerita denganmu? Kalau yang ingin aku ceritakan yaitu tentangmu, tentang rasa kecewaku padamu.
“ aku tidak ada cerita “
“ ada yang berbeda denganmu hari ini. Apa kamu tidak suka aku bersama Alleta? “
“ tidak tentunya aku sangat bahagia melihat kedua sahabatku bahagia bersama. “



               

Kamis, 26 Desember 2013

Aku Terbiasa Tanpa Perhatianmu

Aku rasa, jarak antara kamu dan aku tidak jauh. Bagaimana aku bisa membuatmu tinggal di satu kota denganku, sedangkan dikota yang berbeda kini kamu sibuk mengejar cita-citamu. Rasa kesalku terobati, setelah kamu meyakinkanku bahwa kamu akan selalu menghubungiku. Aku tidak merasa jauh denganmu, dengan semua rayuan yang selalu kamu selipkan diantara pesan handphone atau lewat email. Tak jarang kamu menelponku hanya dengan alasan ingin mendengar suaraku. Aku nyaman, aku merasa tidak ada yang berbeda diantara kita. Diantara kesibukanmu, kamu selalu ada waktu untuk menceritakan semua yang terjadi dikampusmu padaku. Walaupun larut malam baru bisa kau menghubungiku, walaupun dengan kantuk yang sempat mendarat dikelopak mataku. Aku tak pernah melewatkan untuk menunggu nada pesan masuk dalam handphoneku. Mungkin tak ada satu atau dua jam yang aku lalui denganmu setiap malam, tapi candaan dalam pesan ataupun telponmu itu selalu mengobati rasa rindu yang menggebu. 
Kamu tidak pernah lupa memberitahuku pengalaman yang luarbiasa aku dengar dari yang kamu dapatkan disana. Akupun begitu, kita sama-sama tau yang terjadi disekitar kita, tentunya dengan lingkup dimensi yang berbeda. Suatu saat kamu pernah terlambat menghubungiku, berkali-kali aku menghubungimu dan tidak ada jawaban. Aku benci saat itu. Hubungan aku dengan kamu seakan berhenti begitu saja, berjuta pisau tajam jatuh menusuk hatiku. Aku tak habis pikir kamu pergi begitu saja, setelah kamu selesai merangkai kata, bahwa kamu juga menyimpan rasa yang sama denganku. Aku begitu menyesal, semudah itukah aku terbuai manis ucapanmu itu. Aku begitu kecewa, semudah itukan kamu pergi dengan sejuta pertanyaanku yang belum sempat kamu jawab.
Hariku berbalik seratus delapan puluh derajat setelah kau pergi. Aku berubah menjadi seorang yang pendiam, atau bahkan bibir ini malas untuk sekedar bercerita dengan sahabat-sahabatku tentangmu. Mungkin air mata ini  mulai kering setelah habis tertumpah dan itu karenamu. Aku benci pertemuan, jika akhirnya aku pula yang merasakan sakit dengan perpisahan. Aku benci bermanja-manja denganmu, jika akhirnya aku yang mersakan bagaimana perhatianmu hilang begitu saja. Sudahlah, aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena kehilangan perhatian darimu, orang yang tak lebih dari sekedar teman.
Mungkin hampir satu bulan aku tak pernah berkomunikasi lagi denganmu. Beberapa pesan yang kamu kirimkan untukku, sangat enggan aku baca. Namun lagi-lagi aku terbuai oleh kata maafmu, yang entah berapa kali kamu lemparkan padaku.
Sesekali kamu duduk diruang tamu rumahku untuk sekedar minum kopi lalu sibuk menceritakan hal yang terjadi selama kita tak bertukar cerita saat liburanmu kamu habiskan disini. Oke aku coba memahami, dan sekarang aku mulai terbiasa dengan kesibukanmu. Aku mulai terbiasa dengan jadwal kuliahmu yang membuat kamu lupa menelponku atau hanya sekedar mengucapkan selamat tidur untukku. Aku mulai terbiasa tanpa pesanmu yang tidak setiap kali setiap waktu kamu kirimkan padaku. Aku terbiasa tanpa perhatianmu.

Senin, 23 Desember 2013

Rama Shinta

Satu kisah
dalam epos kalimat India
Bertemulah sosok nan elok rupawan
Paras menawan
Cantiknya kalahkan para bidadari

Bertemu
dalam sebuah saembara
Menikah namun terusir kejam dunia
Hiduppun sengsara dalam hutan
Berkawan dengan binatang
Tertidur diatas keras batuan
Terselimuti daun-daun kering

Waktu itu,
Sang putri terbawa pergi
Angin kejahatan dari Alengka
Mulailah sebuah cerita
Gandrung Rama mencari Shinta

Perang darah
Saat terlepasnya sebuah busur panah
Mematahkan leher
Demi mendekap seorang kesayangannya
Dalam hangat peluk cintanya

Hanya Perlu Waktu

Aku perlu waktu lama tuk bangun rasa ini
Rasa yang bisa buat bahagia ataupun sebaliknya
Namun, hanya dalam sekejap
Kau ubah segalanya
Entah karena mantra apa
Kau yang dahulu mendekapku
dan menggenggam erat jemarikau
Kini berbalik menjauh tanpa dengar lagu rindu

Aku hanya berdiri
Mematung di depan pintu
Aku hanya menunggu
Hingga mawarku kian melayu
Aku hanya berharap, mataku kembali lihat sosokmu
Aku hanya bermimpi, kau ada disampingku

Aku seperti dandelion tanpa bulu-bulunya
Aku seperti merpati dengan sebelah sayapnya
Aku lelah setelah menyadari itu semua
Aku rapuh setelah rasa sakit yang meremukkan isi jantungku
Setelah kutau
kau tak lagi milikku