Tidak semua yang aku tulis adalah yang aku rasakan

Rabu, 10 Oktober 2018

Penelitian Fenomenologi


Penelitian Fenomenologi

Oleh:

Malidha Amelia (15301241016)

Pendidikan Matematika/FMIPA/Universitas Negeri Yogyakarta




Definisi dan Latar Belakang

Penelitian fenomenologis mendeskripsikan pemaknaan umum dar sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Penulis memfokuskan untuk mendeskripsikan apa yang sama atau umum dari semua partisipan ketika mengalami fenomena contohnya dukacita yang dialami secara universal.

Tujuan utama dari penelitian fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman individu dari fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau intisari universal, hal tersebut sesuai dengan yang disebutkan oleh Van Manen (1990, hlm 17). Pengalaman manusia yang dituliskan dapat berupa fenomena misalnya, insomnia, kesendirian, kemarahan, dukacita atau pengalaman operasi bypass pembuluh korner (Moustakas, 1994).

Fenomenologi memiliki komponen filosofis yang kuat yang mengambil ide dari matematikawan Jerman Edmund Husserl (1859-1938). Fenomenologi juga populer dalam ilmu sosial dan kesehatan, khususnya sosiologi, psikologi, keperawatan dan ilmu kesehatan dan pendidikan. Asumsi filosofis berpijak pada landasan yang sama yaitu tentang pengalaman hidup dari orang-orang, pandangan bahwa pengalaman yang dialami oleh orang secara sadar sesuai yang disebutkan oleh Van Manen (1990), dan merupakan pengembangan deskripsi tentang esensi dari pengalaman bukan penjelasan atau analisis sesuai yang dikatakan oleh Moustakas (1994).

Stewart dan Mickunas (1990) menekankan bahwa terdapat empat prespektif filosofis dalam fenomenologi yaitu:

·         Filsafat tanpa perangsangkaan. Dimana pendekatan fenomenologis adalah menahan semua pertimbangan dan penilaian tentang hal yang riil atau sikap yang alami hingga mereka ditemukan dalam landasan yang lebih pasti.

·         Menggunakan internasionalitas kesadara. Sehingga ide yang dikeluarkan oleh partisipan merupakan kesadaran yang selalu diarahkan pada objek. Maka dari itu realitas dari objekk tidak terelakkan terkait dengan kesadaran seseorang tentangnya.

·         Terdapat penolakan terhadap dikotimi subjek-objek. Tema yang dituliskan penulis mengalir secara alamiah dari kesengajaan dan kesadaran yang penuh.

·         Seorang individu yang menulis fenomenologis tidak lupa untuk memasukkan sebagian pembahasan tentang asumsi-asumsi filosofis tentang fenomenologi di samping metode dalam bentuk penelitian ini.

Ciri Utama Fenomenologi

Terdapat beberaba ciri yang secara khas terdapat dalam semua penelitain fenomenologis, yaitu sebagai berikut:

·         Penekanan pada fenomena yang hendal dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal, misalnya ide pendidikan tentang “pertumbuhan profesional”, konsep psikologis tentang “dukacita” atau ide kesehatan tentang “hubungan keperawatan”.

·         Eksplotasi fenomena terhadap kelompok individu yang semua telah mengalami fenomena tersebut. Sehingga kelompok yang diidentivikasi merupakan kelompok heterogen dari 3 sampai 15 individu.

·         Pembahasan filosofis yang menelusuri pengalamaan hidup dari individu dan bagaimana mereka memiliki pengalaman subjektif dari fenomena tersebut maupun pengalaman objektif dari sesuatu yang sama dari orang lain.

·         Pada sebagian bentuk fenomenologi, peneliti menutup dirinya berupa membahas pengalaman pribadinya dalam fenomena studi tersebut. Hal ini berfungsi adagr peneliti dapat berfokus pada pengalaman dari para partisipan dalam studi tersebut.

·         Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai terhadap individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Akantetapi, hal tersbut bukanlah ciri yang universal, karena sebagian studi fenomenologis melibatkan beragam sumber data misalnya puisi, pengalaman dna dokumen.

·         Analisis data sesuai prosedur sistematis bergerak dari satuan analisis yang sempir misalnya pernyataan penting menuju ke satuan yang lebih luas misalnya satuan makna, kemudian menuju deskripsi yang detail yang merangkum dua unsur yaitu “apa” yang telah dialami oleh individu dan “bagaimana” mereka mengalaminya, hal tersebut sesuai apa yang dikatakan oleh Moustakas (1994).

·         Fenomenologi diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas mengenai esensi dari pengalaman yang dialami olej individu dengan melibatkan “apa” yang telah mereka alami dan “bagaimana” mereka mengalami hal tersebut.

Tipe Fenomenologi

Ada dua pendekatan dalam studi fenomenologi yang disoroti dalam pembahasan ini yaitu fenomenologi hermeneutik oleh Van Manen (1990) dan fenomenologi empiris, transdental, atau psikologis oleh Moustakas (1994).

a.       Fenomenologi hermeneutik

Definisi dari fenomenologi hermeneutik adalah penelitian yang diarahkan kepada pengalaman hidup (fenomenologi) dan ditunjukkan untuk menafsirkan “teks” kehidupan (hermeneutika). Fenomenologo bukan hanya deskripsi, tetapi juga merupakan penafsiran yang dibuat peneliti, sehingga peneliti melakukan proses “mediasi” makna yang berbeda dari pengalaman-pengalaman hidup yang berbeda, hal tersebut dikemukakan oleh Van Manen (1990).

b.      Fenomenologi empiris, transdental atau psikologis

Fenomenologo transdental atau psikologi yang dikemukakan oleh Moustakas (1994) kurang berfokus pada penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus kepada deskripsi tentang pengalaman dari partisipan tersebut. Moustakas juga menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Hussrels yaitu epoche (pengurungan) sehingga para peneliti menyingkirkan pengalaman mereka sejauh mungkin untuk memperoleh prespektif yang segar (baru) terhadap fenomena yang sedang dipelajari.

Transdental berarti bahwa segala sesuatunya dipahami secara segar (baru) seolah-olah untuk pertama kali (Moustakas, 1994). Selain menggunakan konsep pengurungan, fenomenologi transdental empiris juga mengadopsi Duquesne Studies in Phenomenological Psychology dan prosedur analisis data. Prosedur tersebut diilustrasikan oleh Moustakas (1994) adalah sebagai berikut: mengidentifikasi fenomena yang hendak dipelajari, mengurung pengalaman sendiri, dan mengumpulkan beberapa data dari berbagai orang yang telah mengalami fenomena tersebut. Selanjutnya peneliti melakukan analisis data dengan mereduksi informasi menjadi pernyataan atau kutipan pentimg dan memadukan pernyataan tersebut menjadi tema. Kegiatan selanjutnya adalah peneliti mengembangkan deskripsi tekstural tenntang pengalaman dari orang (apa yang dialami oleh para partisipan) deskripsi struktural tengtang pengalaman mereka (bagaimana mereka mengalaminya dalam sudur pandang kondisinya, situasinya dan konteksnya) dan kombinasi dari tekstural dan struktural untuk menyampaikan esensi keseluruhan dari pengalaman tersebut.

Prosedur bagi Pelaksanaan Riset Fenomenologis

Ada beberapa langkah-langkah prosedural yang utama untuk melakukan penelitian fenomenologis adalah sebagai berikut:

·         Peneliti menentukan apakah proble risetnya oaling baik untuk dipelajari dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Beberapa tipe yang cocok menggunakan pendekatan fenomenologis adalah permasalahan untuk memahami pengalaman yang sama atau bersama dari berbagai individu.

·         Fenomena yang menarik untuk dipelajari misalnya kemarahan, profesionalisme, apa yang dimaksud dengan kurang berat badan (underwight) atau apa yang dimaksud dengan seorang pegulat.

·         Peneliti mengenai dan menentukan asumsi filosofis yang luas dari fenomenologi. Misalnya seseorang dapat menuliskan tentang kombinasi dari realitas objektif dan pengalaman individual. Pengalaman hidup ini lebih lanjut besifat “sadar” dan diarahkan pada objek. Untuk dapat mendeskripsikan secara penuh bagaimana para partisipan melihat fenomena tersebut, para peneliti harus menyingkirkan sejauh mungkin pengalaman mereka sendiri.

·         Data dikumpulkan dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan cara mewawancari partisipan secara mendalam. Polkinghorne (1989) menyarankan agar para peneliti mewawancarai 5 hingga 25 individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Bentuk-bentuk data yang lain mungkin juga dikumpulkan misalnya pengamatan, jurnal, puisi, musik dan bentuk kesenian yang lain.

·         Moustakas mengatakan bahwa para partisispan diberikan dua pertanyaan umum yaitu Apakah yang telah anda alami terkait dengan fenomena tersebut? Konteks atau situasi apakah yang biasanya memengaruhi pengalaman anda dengan denomena tersebut? Kedua pertanyaan tersebut akan mengantar pada deskripsi tekstual dan struktural tentang pengalaman dan dapat memberikan yang lebih baik tentang pengalaman yang sama dari para partisipan.

·         Langkah analisis data fenomenologis secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis. Berdasarkan pada data dari pertanyaan riset yang pertam adan kedua, analisis data memeriksa data tersebut  (misalnya traskrip wawancara). Dan menyoroti berbagai “pernyataan penting”, kalimat atau kutipan yang menyediakan pemahaman tentang bagaimana para partisipan mengalami fenomena tersebut. Moustakas menyebutkan langkah tersebut menjadi horizonalisasi. Selanjutnya peneliti mengembangkan berbagai kelompok makna dari pernyataan penting ini menjadi berbagai makna.

·         Pernyataan penting dab tema ini kemudian digunakan untuk menilis deskripsi tantang apa yang dialami oleh para partisipan (deskripsi tekstural) yqng mempengaruhi bagaimana para partisipan mengalami fenomena tersbeut, disebut variasi imajinatif atau deskripsi struktural.

·         Dari deskripsi striktural dan tekstural tersbeut, peneliti kemudian menulis deskripsi gabingan yang mempresentasikan “esensi” dari fenomena disebut dengan struktur invarian esensial (esensi). Bagian ini terutama berfokus pada pengalaman yang dama dari para partisipan.

Fenomenologi menyediakan pemahaman yang mendalam tentang fenomena sebagaimana yang dialami oleh beberapa individu. Fenomenologi dapat melibatkan satu bentuk pengumpulan data yang efisien dengan hanya memasukkan satu atau lebih wawancara dengan para partisipan. Disamping itu, para partisipan yang digunakan untuk penelitian dipilih secara hati-hati, yaitu dimana mereka semua mengalami fenomena yang diteliti, sehingga peneliti pada akhirnya dapat membentuk pemahaman yang sama. Menemukan individu yang telah mengalami fenomena tersbeut mungkin sulit dan juga peneliti perlu untuk mengurung atau menutup pengalamannya sendiri, menahan pemahaman peneliti dalam gerakan reflektif yang menumbuhkan rasa ingin tahu merupakan kesulitan tersemdiri bagi peneliti untuk melakukan penelitian fenomenologi (LeVasseur,2003). Oleh karena itu, peneliti perlu untuk memutuskan bagaimana dan dengan cara apa pemahaman pribadinya akan dimasukkan kedalam sturi tersebut.



Sumber:

Penelitian Kualitatif & Desain Riset “Memilih Diantara Lima Pendekatan” oleh John W. Creswell


Tidak ada komentar:

Posting Komentar