Riset Naratif
Oleh:
Malidha Amelia
(15301241016)
Pendidikan
Matematika/FMIPA/Universitas Negeri Yogyakarta
Riset
naratif berasal dari sastra, sejarah, antropologi, sosiologi, sosiolinguistik
dan pendiidkan. Sehingga berbagai bidang
strudi telah memiliki pendekatan tersebut. Dengan adanya banyak buku-buku dan
jurnal yang membahas mengenai riset naratif menjadikan riset naratif sebagai
pendekatan yang populer. Metode riset naratif dimulai dengan pengalaman yang
diekspresikan kedalam sebuah cerita yang disampaikan oleh individu penulis.
Proses penulisan tersebut dilakukan oleh penulis dengan cara menganalisis dan
memahami cerita tersebut. Menurut Czarniawska (2004) dalam buku Pneelitian
Kualitatif dan Design Riset mendefinisikan riset naratif yaitu suatu tipe
penilitan kualitatif yang spesifik dimana narasi yang dituliskan dengan
menceritakan peristiwa/aksi atau rangkaian peristiwa/aksi yang terhubung sesuai
kronologis cerita sesungguhnya. Prosedur pelaksanaan riset naratif adalah yang
pertama memfokuskan kepada pengkajian satu atau dua individu, kemudian
dilakukan pengumpulan data riset sesuai dengan cerita, pelaporan pengalaman
individual, dan penyusunan kronologis dari cerita/pengalaman yang diperoleh.
Berikut
merupakan ciri utama dari riset naratif:
·
Pengumpulan
cerita dari individu yang diteliti merupakan salah satu cara yang dilakukan
oleh peneliti naratif. Mereka mengumpulkan cerita baik berupa dokumen ataupun
percakapan kelompok. Menurut Riessman (2008) mengatakan bahwa cerita yang
dituliskan dalam penelitian naratif tersebut dapat muncul dari cerita yang
dituturkaan langsung dari individu, cerita yang dibentuk bersama oleh peneliti
dan partisipan, ataupun cerita/pesan yang muncul secara tersirat melalui
penampilan suatu drama. Sehingga hasil dari penelitian nararif ini terdapat
ciri kolaboratif ketika hasil yang muncul merupakan cerita melalui interaksi
atau dialog peneliti dengan partisipan.
·
Cerita
naratif merupakan pengalaman individual dan cerita, sehingga dapat
memperlihatkan identitas dari individu dan bagaimana mereka melihat diri mereka
sendiri
·
Cerita
naratif dikumpulkan dari bentuk data yang beragam, yaitu melalui wawancara,
pengalaman, dokumken, gambar dan sumber data kualitatif yang lain.
·
Cerita
naratif sering didengar yang kemudian disusun kembali oleh peneliti dalam suatu
kronologi meskipun cerita yang dituliskan tidak diceritakan kronologisnya oleh
partisipan. Dalam cerita narasi juga terdapat perubahan waktu dalam
penyampaiannya ketika partisipannya memberikan pengalaman kehidupan mereka
dalam masa lalu, masa kini atau masa depannya. (Clandinin & Connelly,
2000).
·
Menurut
Riessman (2008), cerita naratif merupakan analisis dalam berbagai cara yaitu
yang dibuat dari apa yang dikatakan (secara tematik), sifat dari penuturan
ceritanya (struktural) dan kepada siapa cerita tersebut ditunjukkan
(dialogis/permainan drama.
·
Menurut
Denzin (1989), cerita naratif mengandung titik balik atau ketegangan spesifik
yang diperlihatkan oleh peneliti dalam penuturan cerita naratifnya.
·
Cerita
naratif berlangsung di tempat dan situasi yang spesifik. Hal tersebut
dikarenakan konteks cerita menjadi penting dlam penuturan cerita naratif.
Studi
naratif dibagi kedalam dua bagian yang berbeda, yaitu bagian yang
mempertimbangkan strategi analisis data yang digunakan oleh peneliti naratif. Terdapat
beberapa strategi analisis yang dapat digunakan salah satunya adalah yang
disampaikan oleh Riessman. Ia mengatakan bahwa terdapat tiga jenis pendekatan
yang digunakan untuk menganalisis cerita naratif, yaitu:
1. Analisis tematik dimana penelitinya
mengidentifikasi tema sesuai yang dikatakan oleh partisipannya.
2. Analisis struktural dimana pemaknaan
dari cerita bergeser pada “penuturan” dan cerita yang ditulis dapat dibentuk
selama percakapan dalam bentuk komik, tragedi, roman, dll.
3. Analisis dialogis/permainan drama,
sehingga fokusnya beralih pada bagaimana cerita tersebut dihasilkan (secara
interaktif antara peneliti dengan partisipan). Cerita tersebut ditampilkan
dalam permainan/drama sehingga dapat menyampaikan pesan tersendiri.
Bagian
kedua dalam studi naratif adalah mempertimbangkan tipe dari narasi yang akan dibuat. Menurut
Casey (1995/1996) ada beberapa pendekatan yang populer, yaitu sebagai berikut:
1. Studi Biografis
Studi biografis adalah suatu bentuk naratif dimana
penelitinya menuliskan dan merekam pengalaman dari kehidupan orang lain.
2. Auto-etnografi
Menurut Ellis (2004) dan Muncey (2010)
auto-etnografi ditulis dan direkam oleh individu yang menjadi subjek dalam
penelitian tersebut. Auto-etnografi didefinisikan sebagai ide dari diri
sendiri, merupakan cerita yang berasal dari kesadaran diri sendiri, kritik diri
dalam konteks sosial, potensi yang mengesankan dll. Auto-etnografi memuat
cerita pribadi yang dituliskan oleh penulis dan memiliki makna kebudayaan yang
luas.
Contohnya adalah Disertasi Doktoral dari Neymar
(2011), dalam tulisannya berisi eksploasi tentang pengalamannya mengajar dalam
latar belakang masalah utama yang terjadi disekolah di Amerika dan Ukraina.
Dimana dalam cerita tersebut menyebutkan beberapa masalah yaitu rendahnya
kinerja administrasi, rendahnya kedisiplinan, pencurian dan persoalan lain
yangn mewarnai kehidupan pribadi dan profesinya.
3. Sejarah Kehidupan
Sejarah kehidupan menggambarkan kehidupan dari
seseorang secara utuh dan lengkap. Menurut Denzin (1989) cerita pengalaman
pribadi merupakan cerita naratif tentang pengalaman pribadi yang terjadi dalam
beberapa episode.
4. Sejarah Tutur atau Sejarah Lisan
Sejarah tutur/lisan menurut Plummer (1983) merupakan
pengumpulan refleksi pribadi mengenai peristiwa dan penyebabnya dari satu atau
beberapa individu.
Dari
beberapa pendekatan yang dikemukakan oleh Clandinin dan Connelly (2000) metode
studi naratif tidak mengikuti pendekatan lockstep,
tetapi mempresentasikan pengumpulan berbagai topik informal. Berikut merupakan
beberapa prosedur dalam pelaksanaan riset narasi yang dikemukakan oleh Riessman
(2008) dalam proses pengumpulan data dan strategi analisis data.
1. Riset naratif sesuai untuk mengungkap
cerita atau pengalaman hidup secara rinci dari seorang individu tunggal ataupun
lebih dari satu, sehingga perlu untuk ditentukan apakah problem atau pertanyaan
risetnya sudah cocok untuk sutu riset naratif.
2. Memilih satu atau lebih individu yang
memiliki cerita yang akan dituliskanm, dimana pengalamannya menarik untuk
diceritakan dan diperlukan waktu yang banyak untuk mengumpulkan semua ceritanya
dari berbagai jenis informasi. Dalam mengumpulkan informasi tersebut, peneliti
dapat menuliskan cerita/pengalaman partisipan melalui jurnal atau diari yang ditulis
sendiri oleh partisipan, pengamatan terhadap partisipan, pengumpulan surat yang
dikirim oleh partisipan, mengumpulkan cerita dari keluarga partisipan,
mengumpulkan dokumen atau korespondensi resmi tentang mereka, mengumpulkan
foto, kotak memori atau artefak pribadi dari partisipan.
3. Mempertimbangkan bagaimana pengumpulan
data dan perekamannya. Menurut Riessman (2008) ada beragam cara yang dapat
digunakan oleh peneliti untuk mencatat atau merekam cerita. Catatan atau
rekaman tersebut memperlihatkan peneliti sebagai seorang pendengar, menekankan
interaksi peneliti dengan partisipan, atau mencantumkan pergeseran makna yang
muncul melalui cerita yang diterjemahkan.
4. Mengumpulkan informasi dari partisipan.
Peneliti naratif menuliskan pengalaman dari partisipan, kebudayaan dan konteks
historis sebagai pengalaman pribadinya.
5. Menganalisis cerita dari partisipan.
Peneliti naratif dapat mengambil peran untuk, menyusun kembali cerita dari
partisipan menjadi kerangka yang bermakna. Hal tersebut terjadi karena partisipan
menyampaikan cerita/pengalamannya tidak secara kronologis. Kerangka tersebut
tersusun dari mengumpulkan cerita, menganalisis untuk menemukan unsur penting
(waktu, tempat, alur dan suasana), selanjutnya adalah menuliskan kembali
cerita/pengalaman tersebut kedalam suatu rangkaian kronologis. Satu aspek
penting dalam rangkaian kronologi adalah agar cerita yang dituliskan memiliki
permulaan, pertengahan dan akhir. Hal tersebut serupa dengan penulisan novel
yang melibatkan keadaan sulit, konflik, persaingan tokoh yang satu dengan tokoh
yang lain kemudian sampai ke pemecahan masalah dengan proses tertentu sesuai
yang dikatakan oleh Carter (1993). Peneliti naratif juga perlu untuk mencari
tema, menggunakan pendekatan mikrolinguistik untuk menyampaikan makna dari kata
atau frasa dalam analisis percakapan dari partisipan.
6. Peneliti juga perlu untuk berkolaborasi
aktif dengan partisipan yang dilibatkan dalam riset tersebut. Dalam proses ini
peneliti dengan partisipan merundingkan makna dari cerita yang disampaikan,
kemudian memeriksa kevalidan dalam proses analisisnya (Creswell & Miller,
2000). Hal tersebut terjadi karena mungkin
terdapat epiphanies (peristiwa
yang memunculkan kesan/kenangan mendalam), titik balik, atau kekacauan cerita
yang terlalu mendramatis dari cerita yang disampaikan oleh partisipan dengan
penulis.
Penulisan
riset naratif merupakan salah satu penulisan penelitian dengan metode yang
menantang. Hal tersebut dikarenakan bahwa peneliti perlu untuk mengumpulkan
informasi tentang partisipan, kemudian peneliti perlu mengetahui dan memahami
konteks kehidupan dan certia/pengalaman yang diberikan oleh partisipan. Sesuai
yang dikemukakan oleh Edel (1984) bahwa penulis perlu untuk mengungkap “gambar
di bawah karpet” untuk memperlihatkan dan mejelaskan secara detail
certita/pengalaman hidup partisipan. Selain itu kolaborasi aktif dari peneliti
dengan partisipan perlu untuk dibangun guna mempertimbangkan latar belakang
pribadi dan politik yang dapat mempengaruhi bagaimaan penulis “menuturkan
kembali” cerita tersebut.
Sumber:
Penelitian
Kualitatif & Desain Riset “Memilih Diantara Lima Pendekatan” oleh John W.
Creswell
Tidak ada komentar:
Posting Komentar