Tidak semua yang aku tulis adalah yang aku rasakan

Rabu, 10 Oktober 2018

Riset Naratif


Riset Naratif

Oleh:

Malidha Amelia (15301241016)

Pendidikan Matematika/FMIPA/Universitas Negeri Yogyakarta




Riset naratif berasal dari sastra, sejarah, antropologi, sosiologi, sosiolinguistik dan pendiidkan. Sehingga  berbagai bidang strudi telah memiliki pendekatan tersebut. Dengan adanya banyak buku-buku dan jurnal yang membahas mengenai riset naratif menjadikan riset naratif sebagai pendekatan yang populer. Metode riset naratif dimulai dengan pengalaman yang diekspresikan kedalam sebuah cerita yang disampaikan oleh individu penulis. Proses penulisan tersebut dilakukan oleh penulis dengan cara menganalisis dan memahami cerita tersebut. Menurut Czarniawska (2004) dalam buku Pneelitian Kualitatif dan Design Riset mendefinisikan riset naratif yaitu suatu tipe penilitan kualitatif yang spesifik dimana narasi yang dituliskan dengan menceritakan peristiwa/aksi atau rangkaian peristiwa/aksi yang terhubung sesuai kronologis cerita sesungguhnya. Prosedur pelaksanaan riset naratif adalah yang pertama memfokuskan kepada pengkajian satu atau dua individu, kemudian dilakukan pengumpulan data riset sesuai dengan cerita, pelaporan pengalaman individual, dan penyusunan kronologis dari cerita/pengalaman yang diperoleh.

Berikut merupakan ciri utama dari riset naratif:

·         Pengumpulan cerita dari individu yang diteliti merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh peneliti naratif. Mereka mengumpulkan cerita baik berupa dokumen ataupun percakapan kelompok. Menurut Riessman (2008) mengatakan bahwa cerita yang dituliskan dalam penelitian naratif tersebut dapat muncul dari cerita yang dituturkaan langsung dari individu, cerita yang dibentuk bersama oleh peneliti dan partisipan, ataupun cerita/pesan yang muncul secara tersirat melalui penampilan suatu drama. Sehingga hasil dari penelitian nararif ini terdapat ciri kolaboratif ketika hasil yang muncul merupakan cerita melalui interaksi atau dialog peneliti dengan partisipan.

·         Cerita naratif merupakan pengalaman individual dan cerita, sehingga dapat memperlihatkan identitas dari individu dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri

·         Cerita naratif dikumpulkan dari bentuk data yang beragam, yaitu melalui wawancara, pengalaman, dokumken, gambar dan sumber data kualitatif yang lain.

·         Cerita naratif sering didengar yang kemudian disusun kembali oleh peneliti dalam suatu kronologi meskipun cerita yang dituliskan tidak diceritakan kronologisnya oleh partisipan. Dalam cerita narasi juga terdapat perubahan waktu dalam penyampaiannya ketika partisipannya memberikan pengalaman kehidupan mereka dalam masa lalu, masa kini atau masa depannya. (Clandinin & Connelly, 2000).

·         Menurut Riessman (2008), cerita naratif merupakan analisis dalam berbagai cara yaitu yang dibuat dari apa yang dikatakan (secara tematik), sifat dari penuturan ceritanya (struktural) dan kepada siapa cerita tersebut ditunjukkan (dialogis/permainan drama.

·         Menurut Denzin (1989), cerita naratif mengandung titik balik atau ketegangan spesifik yang diperlihatkan oleh peneliti dalam penuturan cerita naratifnya.

·         Cerita naratif berlangsung di tempat dan situasi yang spesifik. Hal tersebut dikarenakan konteks cerita menjadi penting dlam penuturan cerita naratif.

Studi naratif dibagi kedalam dua bagian yang berbeda, yaitu bagian yang mempertimbangkan strategi analisis data yang digunakan oleh peneliti naratif. Terdapat beberapa strategi analisis yang dapat digunakan salah satunya adalah yang disampaikan oleh Riessman. Ia mengatakan bahwa terdapat tiga jenis pendekatan yang digunakan untuk menganalisis cerita naratif, yaitu:

1.      Analisis tematik dimana penelitinya mengidentifikasi tema sesuai yang dikatakan oleh partisipannya.

2.      Analisis struktural dimana pemaknaan dari cerita bergeser pada “penuturan” dan cerita yang ditulis dapat dibentuk selama percakapan dalam bentuk komik, tragedi, roman, dll.

3.      Analisis dialogis/permainan drama, sehingga fokusnya beralih pada bagaimana cerita tersebut dihasilkan (secara interaktif antara peneliti dengan partisipan). Cerita tersebut ditampilkan dalam permainan/drama sehingga dapat menyampaikan pesan tersendiri.

Bagian kedua dalam studi naratif adalah mempertimbangkan  tipe dari narasi yang akan dibuat. Menurut Casey (1995/1996) ada beberapa pendekatan yang populer, yaitu sebagai berikut:

1.      Studi Biografis

Studi biografis adalah suatu bentuk naratif dimana penelitinya menuliskan dan merekam pengalaman dari kehidupan orang lain.

2.      Auto-etnografi

Menurut Ellis (2004) dan Muncey (2010) auto-etnografi ditulis dan direkam oleh individu yang menjadi subjek dalam penelitian tersebut. Auto-etnografi didefinisikan sebagai ide dari diri sendiri, merupakan cerita yang berasal dari kesadaran diri sendiri, kritik diri dalam konteks sosial, potensi yang mengesankan dll. Auto-etnografi memuat cerita pribadi yang dituliskan oleh penulis dan memiliki makna kebudayaan yang luas.

Contohnya adalah Disertasi Doktoral dari Neymar (2011), dalam tulisannya berisi eksploasi tentang pengalamannya mengajar dalam latar belakang masalah utama yang terjadi disekolah di Amerika dan Ukraina. Dimana dalam cerita tersebut menyebutkan beberapa masalah yaitu rendahnya kinerja administrasi, rendahnya kedisiplinan, pencurian dan persoalan lain yangn mewarnai kehidupan pribadi dan profesinya.

3.      Sejarah Kehidupan

Sejarah kehidupan menggambarkan kehidupan dari seseorang secara utuh dan lengkap. Menurut Denzin (1989) cerita pengalaman pribadi merupakan cerita naratif tentang pengalaman pribadi yang terjadi dalam beberapa episode.

4.      Sejarah Tutur atau Sejarah Lisan

Sejarah tutur/lisan menurut Plummer (1983) merupakan pengumpulan refleksi pribadi mengenai peristiwa dan penyebabnya dari satu atau beberapa individu.

Dari beberapa pendekatan yang dikemukakan oleh Clandinin dan Connelly (2000) metode studi naratif tidak mengikuti pendekatan lockstep, tetapi mempresentasikan pengumpulan berbagai topik informal. Berikut merupakan beberapa prosedur dalam pelaksanaan riset narasi yang dikemukakan oleh Riessman (2008) dalam proses pengumpulan data dan strategi analisis data.

1.      Riset naratif sesuai untuk mengungkap cerita atau pengalaman hidup secara rinci dari seorang individu tunggal ataupun lebih dari satu, sehingga perlu untuk ditentukan apakah problem atau pertanyaan risetnya sudah cocok untuk sutu riset naratif.

2.      Memilih satu atau lebih individu yang memiliki cerita yang akan dituliskanm, dimana pengalamannya menarik untuk diceritakan dan diperlukan waktu yang banyak untuk mengumpulkan semua ceritanya dari berbagai jenis informasi. Dalam mengumpulkan informasi tersebut, peneliti dapat menuliskan cerita/pengalaman partisipan melalui jurnal atau diari yang ditulis sendiri oleh partisipan, pengamatan terhadap partisipan, pengumpulan surat yang dikirim oleh partisipan, mengumpulkan cerita dari keluarga partisipan, mengumpulkan dokumen atau korespondensi resmi tentang mereka, mengumpulkan foto, kotak memori atau artefak pribadi dari partisipan.

3.      Mempertimbangkan bagaimana pengumpulan data dan perekamannya. Menurut Riessman (2008) ada beragam cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mencatat atau merekam cerita. Catatan atau rekaman tersebut memperlihatkan peneliti sebagai seorang pendengar, menekankan interaksi peneliti dengan partisipan, atau mencantumkan pergeseran makna yang muncul melalui cerita yang diterjemahkan.

4.      Mengumpulkan informasi dari partisipan. Peneliti naratif menuliskan pengalaman dari partisipan, kebudayaan dan konteks historis sebagai pengalaman pribadinya.

5.      Menganalisis cerita dari partisipan. Peneliti naratif dapat mengambil peran untuk, menyusun kembali cerita dari partisipan menjadi kerangka yang bermakna. Hal tersebut terjadi karena partisipan menyampaikan cerita/pengalamannya tidak secara kronologis. Kerangka tersebut tersusun dari mengumpulkan cerita, menganalisis untuk menemukan unsur penting (waktu, tempat, alur dan suasana), selanjutnya adalah menuliskan kembali cerita/pengalaman tersebut kedalam suatu rangkaian kronologis. Satu aspek penting dalam rangkaian kronologi adalah agar cerita yang dituliskan memiliki permulaan, pertengahan dan akhir. Hal tersebut serupa dengan penulisan novel yang melibatkan keadaan sulit, konflik, persaingan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain kemudian sampai ke pemecahan masalah dengan proses tertentu sesuai yang dikatakan oleh Carter (1993). Peneliti naratif juga perlu untuk mencari tema, menggunakan pendekatan mikrolinguistik untuk menyampaikan makna dari kata atau frasa dalam analisis percakapan dari partisipan.

6.      Peneliti juga perlu untuk berkolaborasi aktif dengan partisipan yang dilibatkan dalam riset tersebut. Dalam proses ini peneliti dengan partisipan merundingkan makna dari cerita yang disampaikan, kemudian memeriksa kevalidan dalam proses analisisnya (Creswell & Miller, 2000). Hal tersebut terjadi karena mungkin  terdapat epiphanies (peristiwa yang memunculkan kesan/kenangan mendalam), titik balik, atau kekacauan cerita yang terlalu mendramatis dari cerita yang disampaikan oleh partisipan dengan penulis.

Penulisan riset naratif merupakan salah satu penulisan penelitian dengan metode yang menantang. Hal tersebut dikarenakan bahwa peneliti perlu untuk mengumpulkan informasi tentang partisipan, kemudian peneliti perlu mengetahui dan memahami konteks kehidupan dan certia/pengalaman yang diberikan oleh partisipan. Sesuai yang dikemukakan oleh Edel (1984) bahwa penulis perlu untuk mengungkap “gambar di bawah karpet” untuk memperlihatkan dan mejelaskan secara detail certita/pengalaman hidup partisipan. Selain itu kolaborasi aktif dari peneliti dengan partisipan perlu untuk dibangun guna mempertimbangkan latar belakang pribadi dan politik yang dapat mempengaruhi bagaimaan penulis “menuturkan kembali” cerita tersebut.



Sumber:

Penelitian Kualitatif & Desain Riset “Memilih Diantara Lima Pendekatan” oleh John W. Creswell

Tidak ada komentar:

Posting Komentar